Peti Kolekte di Pintu Toilet

 Di Salah satu Gereja Katolik ada seorang Bapa Tua sebut saja Paktu yang sangat rajin ikut Perayaan Ekaristi.  Baik itu Perayaan Ekaristi hari Minggu, harian, apalagi hari raya. Paktu  baru bisa alpa ke Gereja jika ada halangan yang sangat mendasar seperti sakit berat, tatapi kalau hanya sekadar  flu, batuk, demam, meriang, mual-mual, keram dan sejenisnya  baginya itu bukan suatu halangan untuk tidak hadir perayaaan Ekaristi. Baginya Perayaan Ekaristi sudah semacam kebutuhan mendasar seperti halnya makan dan minum. Jika Pastor sewaktu- waktu berhalangan membuat Perayaan Ekaristi harian bagi Paktu itu adalah suatu kehampaan yang dalam sedalam lautan.

         Pemilihan tempat duduk di Gereja. Paktu selalu memilih tempat duduk persis dekat  pintu samping sebelah Utara, pintu yang amat sangat nyaman untuk orang keluar masuk semisal ke kamar mandi buang air kecil atau besar bahkan angin jahat yg bergelembung di perut ( sebab angin itu jika ditahan takutnya bolos , eh malah menimbulkan aroma tak sedap yang akan dihirup teman disamping apalagi di belakang). Eh kembali ke tempat duduk, suda mengambang 😂😂 

Tempat duduknya Paktu juga  tidak perna  direbut orang. Semua orang yang hadir Perayaan Ekaristi tau kalau itu tempat duduknya. Sebab jika ada yang berani duduk di tempatnya , Paktu tidak segan-segan mengusirnya. Daripada bikin ribut di Gereja ya, sebaiknya umat lain mengalah saja , iya kan 😂. 

        Dibalik  cerita rajinnya Paktu ke Gereja ternyata ada suatu pertanyaan yang  tak kunjung  terjawab di benak umat dan Pastor Paroki. Mengapa setiap kesempatan pemberian kolekte Paktu selalu keluar Gereja. Hal ini selalu dipertontonkan oleh Paktu yang terkenal amat sangat pelit itu . Ada apa ini? Banyak umat serta pastor paroki bertanya- tanya serta berdiskusi soal sikap Paktu  itu. 

      Jika banyak umat dan Pastor paroki hanya bertanaya- tanya maka lain halnya dengan ulah seorang putra altar yang agak nakal sebut saja namanya Ankal. Ankal yang sering bertugas menjadi putra altar atau ajuda ternyata sangat memperhatikan sikap  Paktu. Pada suatu kesempatan Perayaan Ekaristi  hari Minggu begitu Paktu Keluar ke kamar Kecil, Ankal lansung membuntutinya sambil membawa peti Kolekte. Ankal berdiri persis hanya jarak 30 cm dari Pintu toilet. Dia setia menunggu Paktu keluar. Begitu Paktu keluar Ankal lansung menyodorkan peti Kolekte ke Paktu. Betapa malu dan terkejutnya Paktu, sebab ulahnya menghindari diri memberi Kolekte sudah diketahui oleh Ankal seorang anak putra Altar. Semenjak peristiwa itu Paktu selalu menyiapkan uang  Kolekte  dan tidak pernah lagi keluar saat Perayaan Ekaristi berlangsung.  



Komentar